Coret Aja

Coretan Doang, Jangan Serius Amat lah ….

Kiat Aman Berwirausaha

Bahwa profesi pengusaha (entrepreneur) menjanjikan peluang peningkatan
penghasilan yang berlipat? Yes, karena itulah banyak diantara kita
ingin jadi entrepreneur sukses. Bahwa profesi pengusaha memungkinkan
kita bebas finasial di hari tua karena tabungan cukup sehingga kita
bisa pensiun lebih tenang dan fokus untuk misi hidup yang lain? Betul
demikian dan sudah banyak yang membuktikan. Hanya saja memang tak
mudah menjadi entrepreneur sukses, terbukti banyak pula yang gagal.

Selain itu, tak sedikit orang yang masuk ke dunia wirausaha dengan
terburu-buru dan emosi. Tanpa pikir panjang dan pertimbangan matang ia
langsung tinggalkan pekerjaan sebelumnya yang notabene merupakan
andalan mata pencaharian keluarga. Angan-angannya langsung melambung,
membumbung, dan membayangkan hidup serba-enak bila menjadi pengusaha
sukses dengan penghasilan berlipat. Ia lupa bahwa berwirausaha juga
punya resiko, resiko gagal dan bangkrut. Ia lupa merencanakan
bagaimana seandainya ia gagal memulai. Harus diakui, banyak sekali
orang bertindak semacam ini, yang akhirnya bukannya makin bersemangat
berwirausaha namun justru menjadi antipati alias benci dan menyesal
kenapa melangkah jadi entrepreneur. Bahkan kadang jadi menyalahkan
orang lain. Apalagi kalau yang hingga cerai dengan istri atau dibenci
sanak keluarga. Cara pandang dan cara memulai entrepreneur ‘yang asal
berani’ seperti ini tentu saja kurang elegan.

Disini saya ingin memberikan beberapa informasi alternatif cara aman
masuk menjadi entrepreneur sesuai yang saya tahu dari relasi-relasi
saya pengusaha yang sudah terbukti sukses. Kalau kita ingin mandiri
berwirausaha alias menjadi entrepreneur, kita tidak harus langsung
cabut dari profesi lama kita. Tidak perlu grusa-grusu. Kita harus
dengan dingin membedakan antara berani dan nekad. Apalagi kalau yang
sudah punya tanggungan keluarga, kita juga harus menimbang ada sekian
jiwa yang ikut dalam gerbong kita sehingga kalau kita salah kemudi
mereka juga bisa kejeblos.

Berikut ini beberapa informasi cara yang lebih aman untuk pindah ke
kuadran entrepreneur.

Pertama; kita bisa memulai berwirausaha dengan melakukan penyertaan
saham di bisnis teman kita sembari kita tetap kerja dulu di perusahaan
lama kita. Jadi kita setor modal ke kawan yang punya bisnis bagus dan
nanti bagi kita dapat bagi hasil. Dari sini kita juga sekalian mulai
belajar mengelola usaha. Pelan-pelan kita mulai aktif terjun di
dalamnya dan membantu kerja bareng dengan si teman itu. Kalau skala
usaha joinan dengan teman itu bagus dan penghasilan dari bagi hasil
itu sudah bisa untuk menutup kebutuhan hidup kita dan keluarga,
barulah kita putuskan keluar. Jadi ketika kita keluar dari perusahaan
lama tidak kaget karena tetap ada penghasilan.

Kedua, jurus menginjak dua kapal. Artinya, kita masih sebagai karyawan
di sebuah perushaaan mapan, namun di waktu yang sama juga merintis
usaha alias menjalankan usaha milik sendiri. Cara ini dimungkinkan
bagi mereka-mereka yang punya cukup waktu luang sehingga bisa nyambi.
Sebenarmnya cara ini sekarang lebih dimungkinkan karena adanya HP dan
telpon yang memudahkan koordinasi. Jadi, sementara kita di kantor kita
bisa sembari mengendalikan bisnis sendiri dari jarak jauh. Hingga
skala tertentu nyambi ini sangat dimungkinkan, namun kalau bisnisnya
mulai membesar kita pasti harus cabut. Yang jelas, strategi menginjak
dua kapal ini merupakan pilihan aman agar kita dalam melangkah jadi
entreprenur. Jadi sementara satu kaki kita masih ada di kapal milik
perusahaan lain, satu kaki kita melakukan test market untuk membangun
bisnis sendiri. Cara ini paling umum dijalankan oleh para perintid usaha.

Ketiga, kalau anda tidak mau joinan dengan orang lain dan tidak bisa
berdiri di dua kapal, kita bisa berdayakan pasangan kita
(istri/suami). Jadi, sementara kita masih kerja di perusahaan lama,
pasangan kita (istri atau suami) yang mengurusi bisnis sendiri untuk
masa-masa perintisan ini. Artinya sekoci pendapatan keluarga masih ada
yang bisa diandalkan, baik buat beli beras atau susu anak-anak. Kalau
usaha sendiri ini sudah jalan, silahkan saja keluar dari kerja di
perusahaan orang lain itu.

Soal tip ini saya juga punya contoh kasus riel. Ada pengusaha sukses
kawan baik saya, Pak Budiyanto Darmasatono yang beliau pengusaha kurir
ekspress yang sudah kaeryawan 2.700 orang padahal waktu awal-awal di
jakarta selulus D3 UGM juga gelantungan naik bis kota. Waktu beliau
memulai usaha dia tidak langsung keluar dari pekerjaan lamanya sebagai
supervisor di Dinners Club, namun istrinya dulu yang menjalan usaha.
Tapi kalau ide dan konsep-konsep bisnisnya tetap Pak Budiyanto yang
memotori. Istrinya yang melakukan eksekusi. Kalau ada meeting2 yang
penting, beliau juga cuti dari kantornya dan ikut istri melakukan
presentasi ke calon klien. Jadi dia tidak gegabah langsung cabut dari
kerjaan kantor lamanya. Nah, ketika usahanya sudah berjalan baik dan
pendapatannya sudah mulai bisa diandalkan, barulah ia keluar secara
baik-baik dari perusahaan lamanya, berpamitan dengan sopan untuk usaha
sendiri. Bisnis sendiri itupun langsung ia komandani dan menjadi
dirut-nya. Bisnisnya pun kemudian makin berkembang dan pengusaha yang
rajin berbagi ke yatim dan fakir-miskin ini sekarang sudah punya 2.700
karyawan dengan kantor operasional sudah ada di semua propinsi di
Indonesia. Yang pasti, tip ketiga ini tentu saja berlaku untuk yang
ketika akan mulai mandiri berwirausaha sudah berkeluarga, kalau yang
masih single, tentu saja pasangan Anda ini bisa kakak atau Adik anda.
Ini cara sukses dan aman untuk masuk ke kuadran entrepreneur namun
tidak mengganggu keamanan sumber penghasilan keluarga.

Keempat, kalau Anda sudah ngebet sekali untuk menjadi entrepreneur dan
yakin bakal sukses merasa tak perlu pakai ban serep seperti itu,
setidaknya Anda tetap bisa melakukan pengamanan lain, yakni dana
pendidikan anak. Cara ini juga dilakukan salah satu pengusaha kawan
saya, Pak Harijanto, pengusaha sepatu produsen Nike dan Piero yang
punya karyawan 9.000 orang. Ketika beliau akan menjadi entrepreneur
dengan membeli saham perusahaan dimana ia bekerja ia juga
mempertaruhkan masa depannya: bisa sangat sukses namun juga bisa
menjadi miskin kalau gagal. Nah, untuk mengamankan proses untuk
menjadi entrepreneur ini, beliau dan istri mufakat. Diputuhkan, maju
menjadi entrepreneur dengan membeli perusahaaan dimana ia bekerja
namun sebelumnya tabungan pendidikan untuk anak tidak boleh
diotak-atik. Tabungan anak harus tetap ada dan disendirikan. Jadi
katakanlah proses dia menjadi entrepreneur itu gagal, dana pendidikan
anak tetap aman. Kalau soal makan sih, orang kalau mau usaha pasti
kalau untuk makan saja pasti bisa lah.

Jadi itu beberapa kiat aman pindah ke kuadran entrepreneur. Semoga
dengan cara itu proses transisi menjadi pengusaha sukses menjadi
melegakan semua pihak, tidak ada penyesalan-penyesalan. Silahkan
kawan2 yang ingin memulai usaha memilih jalan yang terbaik.
Kawan-kawan semua bisa meyimak lebih dalam tentang kiat-kiat menjadi
entrepreneur ini (termasuk kisah Pak Budianto Darmastono dan Pak
Harijanto) di buku erbitan Gramedia, “10 Pengusaha Yang Sukses
Membangun Bisnis dari 0” disusun Sudarmadi yang baru saja dicetak ulang.

May 19, 2008 - Posted by | Social Life

2 Comments »

  1. wah … boleh juga tuh. kebetulan saya adalah seorang sarjana yang sangat susah cari kerja. akhirnya saya mulai untuk usaha kecil2an menjadi calo tenaga kerja dalam negeri. tentu saja hambatan dan rintangan datang silih berganti hingga akhirnya bangkrut dan saya berpindah usaha membuka konter hp. konter hp yang saya buka juga bangkrut. modal yang saya percayakan ke teman amblas dibawa lari. saya sangat terpukul saat itu dan sempat menganggur sampai beberapa bulan dengan tanggungan anak dan istri. saya sempat menyesal menjadi seorang enterpreneur. saya juga sempat menjadi pedagang asongan dan berjualan strawberry secara berkeliling. sempat terbesit rasa malu karena bagaimanapun juga saya adalah seorang sarjana.akhirnya saya bertemu dengan seseorang yang notabene adalah pelanggan strawberry juga. setelah kita banyak bercerita dan ngobrol, beliau tertarik dengan usaha jasa yang saya geluti dulu. sampai sekarang usaha tersebut berdiri dan Alhamdulillah dengan kekuatan hati dan keyakinan dan disertai dengan niat baik usaha itu berjalan sampai sekarang dan saya menjadi direktur utamanya dengan umur saya yang sekarang baru 24 tahun.
    saya yakin dengan keuletan dan keyakinan,kesuksesan bisa kita raih. Insya Allah…

    Comment by hanif darussalam | December 4, 2008 | Reply

    • Luar biasa Tekad dan Usaha Mas Hanif dalam mengembangkan diri menjadi seorang enterpreuner. terima kasih telah berbagi disini.

      Comment by coretaja | December 6, 2008 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: