The 6 Most Annoying Coworkers
Nearly every workplace has them: the Naysayer, who dismisses team members’ ideas; the Spotlight Stealer, who claims credit for a colleague’s efforts; and other annoying coworkers who make collaboration difficult. Following are six professionals whose irritating behaviors and irksome attitudes prevent them from forming productive relationships at work — and what you should to do avoid following in their footsteps:
1. The Naysayer.
This office dweller delights in shooting down ideas. Even during “blue sky” brainstorming sessions, where all suggestions are to be contemplated with an open mind, the Naysayer immediately pooh-poohs any proposal that challenges the status quo.
The right approach: Because great solutions often rise from diverse opinions, withhold comment — and judgment — until the appropriate time. Moreover, be tactful and constructive when delivering criticism or alternative viewpoints.
2. The Spotlight Stealer.
There is definitely an “I” in “team” according to this glory seeker, who tries to take full credit for collaborative efforts and impress higher-ups. This overly ambitious corporate climber never heard a good idea he wouldn’t pass off as his own.
The right approach: Win over the boss and colleagues by being a team player. When receiving kudos, for instance, publicly thank everyone who helped you. “I couldn’t have done it without …” is a savvy phrase to remember.
3. The Buzzwordsmith.
Whether speaking or writing, the Buzzwordsmith sacrifices clarity in favor of showcasing an expansive vocabulary of clichéd business terms. This ineffective communicator loves to “utilize” — never just “use” — industry-specific jargon and obscure acronyms that muddle messages. Favorite buzzwords include “synergistic,” “actionable,” “monetize,” and “paradigm shift.”
The right approach: Be succinct. Focus on clarity and minimize misunderstandings by favoring direct, concrete statements. If you’re unsure whether the person you are communicating with will understand your message, rephrase it, using “plain English.”
4. The Inconsiderate Emailer.
Addicted to the “reply all” function, this “cc” supporter clogs colleagues’ already-overflowing inboxes with unnecessary messages. This person also marks less-than-critical emails as “high priority” and sends enormous attachments that crash unwitting recipients’ computers.
The right approach: Break the habit of using email as your default mode of communication, as many conversations are better suited for quick phone calls or in-person discussions. The benefit? The less email you send, the less you’re likely to receive.
5. The Interrupter.
The Interrupter has little regard for others’ peace, quiet or concentration. When this person is not entering your work area to request immediate help, the Interrupter is in meetings loudly tapping on a laptop, fielding calls on a cell phone, or initiating off-topic side conversations.
The right approach: Don’t let competing demands and tight deadlines trump basic common courtesy. Simply put, mind your manners to build healthy relationships at work.
6. The Stick in the Mud.
This person is all business all of the time. Disapproving of any attempt at levity, the constant killjoy doesn’t have fun at work and doesn’t think anyone else should either.
The right approach: Have a sense of humor and don’t be afraid to laugh at yourself once in awhile. A good laugh can help you build rapport, boost morale, and deflate tension when working under stressful situations.
It’s fairly easy to spot the qualities that make the above individuals irritating — at least when the behaviors are displayed by others. It can be a challenge to recognize when you exhibit them yourself. You may not realize, for instance, that you always pepper your communications with industry- or company-specific jargon, even when speaking with new employees or outside contacts. Though you may not be a full-fledged Interrupter or Stick in the Mud, take care to avoid heading down their paths.
The best advice: Remember common courtesy and act toward others as you want them to act toward you.
Merasa Diremehkan Atasan
Pernahkah anda ‘merasa diremehkan atasan’ anda? Kalau pernah silahkan membaca selanjutnya. Saat kita mulai bekerja, kita sebenarnya memasuki sebuah ‘dunia baru’ dengan aturan-aturannya (baik tertulis maupun tidak) sendiri. Kita sendiri membawah sekantong besar aturan kita sendiri, yang kita kumpul dari kehidupan kita sebelumnya; mungkin di kampung halaman, di rumah ortu, di sekolah, di kampus, di tempat kerja sebelumnya dan lain-lain, serta aturan yang kita buat sendiri.
Salah satu akibatnya, tetapi tidak selalu sebagai orang baru di tempat kerja, kita akan ‘merasa diremehkan oleh atasan’ kita. Hal ini akan terrasa terutama oleh rekan-rekan yang baru selesai kuliah dan mulai bekerja.
Kebetulan saya sudah dan malah ‘sering’ mengalami hal ini, karena saya sempat bekerja dan berpindah-pindah tugas sebanyak 16 kali dalam masa kerja 30 tahun, walaupun hanya di satu perusahaan yang sama. Jadi rata-rata saya gonta-ganti bawahan dan juga atasan kurang dari 2 tahun sekali. Tentu saya juga pernah ‘merasa diremehkan’ oleh berbagai sifat-sifat para atasan saya, baik orang kita maupun orang asing terutama saat saya mulai bekerja di tempat tugas yang baru. Selain saya yang berganti tugas dan mendapat atasan baru, sering juga atasan yang diganti jadi walaupun tugasnya tidak berganti, atasannya yang berganti.
Saya pernah mengalami hal ini beberapa kali, yaitu ‘saya merasa diremehkan’ baik dari atasan orang kita dan juga orang asing dalam berbagai jenjang pekerjaan saya. Setelah saya analisa dgn pikiran yang jernih dan emosi dilempar jauh-jauh tentunya, saya temukan bahwa pada dasarnya ini disebabkan umumnya oleh pemikiran alias persepsi kita semata. Tidak ada alasan yang masuk akal bahwa penyebabnya adalah diri kita yang memang patut diremehkan dan juga tidak ada faktor hubungan pribadi kita dengan atasan kita yang negatif. Berikut adalah beberapa pengalaman pribadi saya.
Suatu saat saya ditugaskan oleh Atasan saya (orang Indonesia) membantu rekan kerja saya (juga orang Indonesia, yang lebih senior dari saya) yang menghadapi banyak kendala operasi di unitnya. Saya menemui rekan saya tersebut dan menyampaikan bahwa saya ditugaskan untuk membantu dia memperbaiki mesin unit sekian yang sedang rusak. Dia menyambut saya dengan baik dan saya mulai bekerja. Saya merasa sungguh-sungguh diremehkan olehnya karena apapun yang akan saya kerjakan dipertanyakannya. Saya mengharapkan dia akan membantu saya agar saya bisa membantu dia dengan sepenuh kemampuan saya. Ternyata tidak demikian. Dia justru mempersulit saya karena semua perkakas dan buku manual mesin disimpannya dalam lemari yang dia kunci. Sementara itu dia duduk di kantor ber-AC dan malahan tidur. Sungguh membuat saya kesal dan saya ajak dia untuk ngobrol tentang apa yang dikerjakan dan apa yang diperlukan dan apa bantuan yang saya harapkan dari dia. Nyatanya tidak menolong. Akhirnya saya laporkan ke atasan saya bahwa saya ingin ditugaskan untuk membantu orang lain tetapi tidak yang satu ini.
Atasan saya yang lain, lain lagi tingkahnya. Atasan ‘Orang kita’ yang satu ini nampaknya mempunyai ‘anak emas’ yang sudah terlebih dahulu jadi anak buahnya dan telah mendapat kepercayaan si Boss. Saya pikir wajar saja. Saya harus berusaha untuk mendapatkan kepercayaan dari atasan saya ini. Jadi saya harus berusahan untuk mendapatkan kepercayaan dari si Boss itu. Ternyata memang sangat sulit untuk mendapatkan kepercayaan dari atasan itu.
Orang Asing ternyata lain lagi alasannya ketika saya ‘merasa diremehkan’ oleh dia. Setelah saya selidiki (termasuk ngobrol langsung dengan dia), ternyata Boss Asing ini sebenarnya tidak paham masalah yg kita hadapi karena dia tidak punya keahlian di bidang ini. Pemikiran bahwa saya ‘diremehkan itu’ sebenarnya tidak benar sama sekali. Justru sebaliknya yang saya temukan. Karena dia sudah sangat yakin akan kemampuan saya dan tahu apa yg saya sarankan adalah benar, maka dia sebenarnya ingin belajar lebih dalam dari saya. Jadi ‘pertanyaan-pertanyaan si boss’ yang tadinya saya kira untuk ‘meremehkan saya’ bukan demikian, tetapi justru ingin menggali lebih dalam dan lebih jelas dari saya alias dia adalah ‘murid’ saya yang masih bodoh dan ingin belajar dari saya. Memang sangat sulit membedakan pertanyaan dari boss kita yang juga murid kita. Setelah saya pahami bahwa atasan saya ini bertanya karena ingin tahu, maka perasaan saya bahwa saya diremehkan itu hilang dengan sendirinya dan semua pertanyaannya saya layani dengan senang hati.
Suatu saat saya menjadi bawahan dari seorang asing yang terkenal ‘sangat teliti’ dan ‘sangat cerewet’ kasarnya. Secara mental saya siap untuk menghadapi boss ini. Semua laporan kepadanya ternyata dia baca dan koreksi, tata bahasa, titik, koma, angka2 dengan sangat tekun. Hal ini ternyata sesuai dengan pembicaraan saya dengan dia pada saat awal saya jadi bawahannya. Saya berusaha untuk ‘memenuhi sandard kerja’ yang dia inginkan, selama kurang lebih 2 bulan pertama.
Setelah itu saya dengan sengaja ‘menyelipkan beberapa ‘kesalahan kecil’ (grammer misalnya) dalam laporan saya dan ternyata ‘sudah tidak tertangkap’ olehnya. Saya lakukan beberapa kali dan ternyata sudah tidak tertangkap olehnya lagi. Bagi saya ini pertanda ‘saya telah lulus’ menjadi anak buahnya sehingga pekerjaan saya tidak diperiksa seperti semula. Saya senang menjadi bawahannya karena dia punya standar kepuasan yang tinggi dan saya bertekad untuk menjaga kepercayaannya.
Adalah lagi atasan yang suka menanyakan hal-hal yang kecil-kecil dan sepele saja. Dia memberi nasehat kepada saya, bahwa kita sebagai atasan tidak akan mampu menguasai segala hal yang dikuasai oleh anak buah kita. Kalau kita berkunjung kepada bawahan kita, sempatkan periksa tempat sampah di bengkel atau kantornya. Bila tempat sampahnya tertutup rapih dan sampah tidak berada di luar tong sampah, maka kita bisa pastikan bahwa semua pekerjaan bawahan kita itu beres adanya.
Kesimpulan saya adalah bahwa setiap atasan atau boss itu manusia yang punya kelebihan dan kekurangan seperti diri kita. Sikapnya kepada kita, harus kita ukur dengan alat ukur dan sistim nilai tang dia anut, agar kita tidak merasa diremehkan.
Ingat-ingat kata orang bijak kita,
“lain lalang lain belalang, lain lubuk lain lain pula ikannya.”
-
Archives
- December 2008 (4)
- November 2008 (2)
- September 2008 (3)
- August 2008 (7)
- July 2008 (3)
- June 2008 (16)
- May 2008 (27)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS